289x Filetype PDF File size 0.20 MB Source: pustaka.unpad.ac.id
1
PENGARUH COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY (CBT) UNTUK
MENURUNKAN SIMPTOM DEPRESI PADA PASIEN PASCA STROKE
THE INFLUENCE OF COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY TO REDUCE
SYMPTOMS OF DEPRESSION POST STROKE PATIENTS
Nidya Rizki, S.Psi.,
Drs. Aris Budi Utomo, M.Si., Dr.Ahmad Gimmy Prathama S., M.Si.
Magister Psikologi Profesi Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran
Abstract
This study aimed to determine the effect of CBT in reducing the degree of
symptoms of depression in patients with post-stroke. The design of this study was
quasi-experimental study involving two subject obtained through purposive
sampling technique. Data obtained by using interviews, observations and
questionnaires. The questionnaire used was the Beck Depression Inventory (BDI)
to measure the symptoms of depression with BDI range is 14-19. CBT is given
seven sessions within 45-90 minutes each session. Measurements were performed
twice, before and after the intervention was given. Data were analyzed using
content analysis techniques and descriptive analysis. The results showed that the
effect of CBT in reducing the degree of symptoms of depression in study subject,
which is characterized by decreasing negative emotions after stroke symptoms,
increasing motivation to improve health conditions and decreased physical
complaints on the Subject. After about a month of intervention (CBT) is given,
Subject to maintain the results of intervention studies, namely the cognitive and
behavioral changes that effect in reducing the symptoms of depression post-
stroke.
Keywords: Post-Stroke, Cognitive Behavior Therapy (CBT), a decrease in the
symptoms of depression, depression
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh CBT dalam
menurunkan derajat simtom depresi pada pasien pasca stroke. Rancangan dalam
penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan melibatkan dua Subjek Penelitian
yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh dengan
menggunakan metode wawancara, observasi dan kuesioner. Kuesioner yang
digunakan adalah Beck Depression Inventory (BDI) untuk mengukur simptom
depresi dengan rentang hasil BDI yaitu 14-19. CBT diberikan sebanyak tujuh sesi
dalam waktu 45-90 menit setiap sesi. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali,
yaitu sebelum dan setelah intervensi diberikan. Data dianalisis dengan
menggunakan teknik konten analisis dan analisa deskriptif. Hasil penelitian
2
menunjukkan bahwa CBT berpengaruh dalam menurunkan derajat symptom
depresi pada Subjek Penelitian, yang ditandai dengan menurunnya simtom emosi
negatif pasca stroke, meningkatnya motivasi untuk meningkatkan kondisi
kesehatan dan menurunnya keluhan fisik pada Subjek Penelitian. Setelah sekitar
satu bulan intervensi (CBT) diberikan, Subjek Penelitian dapat mempertahankan
hasil intervensi, yaitu perubahan kognitif dan perilaku yang berpengaruh dalam
menurunkan simptom depresi pasca stroke.
Kata Kunci: Pasca Stroke, Cognitive Behavior Therapy (CBT), penurunan
simptom depresi, depresi
PENDAHULUAN
Stroke merupakan salah satu masalah besar di bidang kesehatan
masyarakat, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Badan kesehatan
dunia (WHO) mendefinisikan stroke sebagai terjadinya gejala klinis yang cepat
berupa gangguan fungsi serebral dengan simptom yang berlangusng selama 24
jam atau lebih tanpa adanya alasan yang jelas selain berasal dari sistem vascular.
Dari seluruh kondisi kronis, stroke dianggap sebagai kelainan yang paling
menyebabkan ketidak berdayaan (disabling).
Dalam waktu 50 tahun terakhir, insiden dan mortalitas stroke menurun
secara pasti berkat penanganan yang lebih baik terhadap keadaan hipertensi dan
stroke itu sendiri. Hasil-hasil penelitian terakhir menyimpulkan bahwa komplikasi
neuropsikologis (seperti gangguan emosional, perilaku, dan kognitif) tidak saja
dapat memberikan dampak negatif pada fungsi sosial penderita stroke dan kualitas
hidup mereka secara keseluruhan.
Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderungan
meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir.
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah
jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan
pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Diperkirakan ada
500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa
pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai
sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang
mengharuskan penderita terus menerus di kasur.1
3
Secara psikologis, penderita pasca stroke memiliki perubahan dan
keterbatasan dalam bergerak, berkomunikasi, dan berpikir yang nantinya akan
sangat mengganggu fungsi peran penderita. Perubahan fisik membuat mereka
merasa terasing dari orang-orang dan mereka akan berpikir bahwa dirinya tidak
berguna lagi karena hidup mereka lebih banyak bergantung pada orang lain,
perasaan-perasaan tersebut akan mulai timbul akibat keterbatasan fungsi fisik dari
penderita.
Perubahan yang terjadi dalam hidup seseorang sesudah terkena stroke
membawa dampak secara luas dalam arti fungsi fisik, mental maupun sosial yang
menghambat kemandirian dalam menjalankan kehidupan sehingga dapat
menyebabkan stres. Penyesuaian diri dari seseorang yang mengalami stres
berbeda-beda pada setiap orang ada yang positif maupun negatif (Lazarus, 1976,
dalam Agustina, 2010). Hal yang paling ditakuti oleh penderita stroke adalah
bahwa hampir selalu penderita yang terserang stroke akan mengalami kecacatan
yakni lumpuh, pikun, serta gangguan-gangguan lain seperti sulit bicara dan sulit
melakukan aktivitas. Penyakit ini dapat mengubah seseorang yang tadinya kuat
dan tampak tidak kenal takut menjadi lemah dan sangat bergantung pada bantuan
orang lain.
Sebagian penderita pasca stroke bahkan tidak dapat melakukan pekerjaan
seperti biasa. Umumnya stroke berlanjut dengan depresi, di mana penderita sadar
bahwa kondisinya sudah berubah-tidak lagi dapat melakukan hal yang biasanya
secara rutin dilakukan sendiri, seperti makan harus disuapi, jalan menjadi lambat,
dan mandi harus dibantu. Mereka jadi tenggelam ke dalam kedepresian mereka
dan menjadi sering menangis dan melamun.
Depresi (dalam Jeanette, 2004) dapat mengenai siapa saja, tetapi orang-
orang dengan penyakit yang serius seperti stroke memiliki risiko lebih tinggi.
Hubungan antara gejala-gejala depresi dan penyakit serebrovaskuler telah banyak
dilaporkan. Pada pasien pasca stroke muncul pikiran-pikiran negatif yang
mempengaruhi kondisi fisik mereka dan juga keadaan emosional dan sikap
mereka dalam menghadapi kondisi pasca stroke.
4
Depresi sendiri merupakan faktor penghambat terhadap proses rehabilitasi,
dan penderita depresi umumnya menunjukkan reaksi penyembuhan yang buruk
dari gangguan yang dialami akibat stroke. CBT merupakan terapi yang efektif
untuk penderita depresi pasca stroke. Menurut Lincoln dan Flannaghan (2010),
CBT dapat mengurangi gejala depresi pada beberapa penderita stroke dan sangat
bermanfaat. CBT adalah teknik terapi yang berasumsi bahwa antara pikiran,
perasaan, fisik dan perilaku saling mempengaruhi satu sama lain (Westbrook,
Kennerley, dan Kirk, 2007). Kognisi dapat mempengaruhi emosi dan perilaku
seseorang. Kognisi di sini adalah bagaimana seseorang menginterpretasi
pengalaman yang dialaminya menjadi sebuah keyakinan yang mempengaruhi
reaksi emosinya. Perilaku dapat dipengaruhi oleh emosi dan kognisi sehingga
nanti juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis individu tersebut.
Menurut Lincoln dan Flannaghan (dalam Jeanette, 2004), cognitive
behavioral therapy dapat mengurangi gejala depresi pada beberapa penderita
stroke dan sangat bermanfaat untuk digunakan pada kelompok kasus-kasus
tersebut. Dengan memberikan cognitive behavioral therapy membantu pasien
stroke yang mengalami depresi diharapkan pasien stroke dapat memiliki cara
berpikir yang lebih baik untuk membantu proses penyembuhannya. Dalam
cognitive behavior therapy, subjek diajarkan untuk mengatasi pikiran yang
maladaptif yang dipengaruhi oleh perasaan tidak berdaya dan kemampuan untuk
mengontrol pikiran-pikiran tersebut. Dengan mengubah pikiran negatif tersebut
juga dapat nantinya mengubah perilaku yang tidak sesuai yang dimiliki oleh
pasien pasca stroke. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai pengaruh cognitive behavior therapy untuk menurunkan
depresi pada pasien stroke.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental dengan
menggunakan teknik pengambilan sample adalah purposive sampling. Data
didapat dari hasil wawancara, observasi dan kuesioner. Cara pengambilan sampel
dilakukan secara snow ball. Variabel dalam penelitian ini adalah simptom depresi
no reviews yet
Please Login to review.