Authentication
304x Tipe PDF Ukuran file 0.30 MB Source: core.ac.uk
Limas Dodi; Metode Pengajaran Nahwu Shorof
METODE PENGAJARAN NAHWU SHOROF
(Ber-kaca dari Pengalaman Pesantren)
Oleh. Limas Dodi
Abstract
Shorof nahwu science teaching methods that can not be
separated from the traditional system while the system is a
departure from the traditional pattern of teaching is very simple
and in the first onset, is teaching sorogan, bandongan and
wetonan in studying religious books written by the scholars of
the medieval era and the book these books are known term
yellow book. Nahwu is Tata-Arabic (Arabic Grammar), whereas
according lughot Shorof or etymology is changing, being
according to the origin of the term is changing the shape of the
other forms to achieve the desired meaning that can only be
achieved with the change. Shorof nahwu science teaching
methods can not be separated from the traditional system, which
departs from the pattern of teaching is very simple and in the
first onset, is teaching sorogan, bandongan and wetonan. In
addition, Drs. H. M. Sulthon Masyhud, M. Pd added in addition
to the usual method sorogan, bandongan and wetonan he added
the rote method. and some are using musyawaroh method,
Keywords: Teaching Methods, Nahwu, Shorof
Pendahuluan
Melihat realita yang ada zaman sekarang banyak orang yang kurang
mendalami ilmu nahwu, shorof, kitab kuning, tetapi zaman sekarang itu lebih
menitik beratkan dibidang ilmu yang bersifat umum, dan seakan akan pondok
itu sekarang dianggap kolot atau kuno, selain itu juga beranggapan
bahwasannya sertifikat atau ijazah pondok itu tidak bisa untuk melamar
pekerjaan, ilmu tersebut dapat membawa kita menuju jalan akhirat sedangkan
kalau ilmu umum atau dunia hanya bersifat fana, atau kita menggunakan
hadi>th Nabi yang artinya apabila dalam masalah dunia maka kita memandang
yang ada di bawahnya tapi kalau masalah agama maka kita memandang yang
1
diatas kita. Dari hadi>th tersebut kita bisa menyimpulkan bahwasannya dalam
masalah dunia itu disuruh untuk memandang yang bawahnya sedangkna urusan
agama sebaliknya, maka dari kesimpulan diatas kita tidak akan memikirkan
dunia yang fana ini dengan terlalu atau hubb al-dunya.>
Dosen Program Studi PBA Sekolah Tinggi Islam Bani Fatah Jombang
1 Imam Nawawi Al-Bantani, Nasoikhul Ibad (Bandung; Irsyad Baitus Salam, 2005), hal.
38.
100 Tafaqquh; Vol. 1 No. 1, Mei 2013
Limas Dodi; Metode Pengajaran Nahwu Shorof
Adalah ilmu nahwu shorof yang membahas kaidah-kaidah tata bahasa
Arab yang paling mendasar justru sangat diperlukan dalam memahami
literatur-literatur yang berbahasa arab, terutama al-Qur'an, hadi>th dan kitab
kuning atau kitab klasik yang sulit untuk dipahami dan bahkan banyak yang
salah memberikan interpretasi sehingga didalam mukadimah al-‘Imrit}i>
disebutkan ilmu nahwu itu berhak dipelajari dahulu karena karena kala>m Arab
2
tanpa ilmu nahwu tidak akan bisa dipahami. Begitulah pentingnya ilmu nahwu
shorof sehingga banyak pondok pesantren yang memperdalami sampai akar-
akarnya. Dari latar belakang tersebut maka penulis mengambil judul "Metode
Pengajaran Nahwu Shorof " sebagai gambaran yang dimana nantinya penulis
akan mencoba untuk menjelaskan dalam pembahasan, sejauh manakah penulis
menyikapi semua itu.
Pembahasan
A. Definisi Metode
Didalam pembelajaran, metode menempati urutan sesudah materi
(kurikulum). Penyampaian materi tidak berarti apapun tanpa melibatkan
metode, adapun metode itu selalu mengikuti materi, dalam arti
menyesuaikan dalam bentuk dan coraknya sehingga metode mengalami
transformasi bila materi yang disampaikan berubah. Akan tetapi materi
yang sama dipakai metode yang berbeda-beda. Seperti halnya materi,
hakikat metode hanya sebagai alat, bukan tujuan untuk merealisir, bahkan
alat merupakan syarat mutlak bagi setiap kegiatan pendidikan dan
3
pengajaran.
Dari rangkaian di atas, arti dari metode itu sendiri sudah bisa
diketahui yakni cara sistematis dan terpikir atau secara teratur dengan baik
untuk mencapai tujuan yang telah dicapai.
B. Definisi Pengajaran
Kata ‚teach‛ atau mengajar yang berasal dari bahasa Inggris kuno,
yaitu teacan, kata ini berasal dari bahasa Jerman kuno (old teutenic), taikjan
yang berasal dari kata dasar teik yang berarti memperlihatkan, kata tersebut
juga ditemukan di dalam bahasa Sanksekerta, dic, yang dalam bahasa
2 Syekh Syarifuddin Al-Imrithy, Takrirot Al-Imrithy (Kediri; Madrasah Hidayatul
Mubtadi'in Lerboyo Kediri), hal. 4.
3 Bila Guru maupun Ustadz mampu memilih metode dengan tepat dan mampu
menggunakan dengan baik, maka mereka memilih harapan yang besar terhadap hasil
pendidikan dan pengajaran yang dilakukan, mereka tidak sekedar mengajar murid atau
santri, melainkan secara profesional dan berpotensi memilih model pengajaran yang
paling baik diukur dari perspektif didaktik metodik maka proses belajar bisa berlangsung
efektif dan efisien, yang menjadi pusat perhatian pendidikan sekarang ini. Mujamil
Qomar, Pesantren Dan Transformasi Metodologi Menuju Demokrasi Instisusi (Jakarta:
Erlangga 2002), hal. 141.
Tafaqquh; Vol. 1 No. 1, Mei 2013 101
Limas Dodi; Metode Pengajaran Nahwu Shorof
4
Jerman kuno dikenal dengan deik, istilah mengajar (teach). Dari istilah-
istilah tersebut maka pengajaran adalah proses penyampaian informasi atau
pengetahuan dari guru terhadap siswa atau santri. Proses penyampaian itu
sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Dalam konteks ini
mentransfer tidak diartikan dengan memindakan, sebagaimana mentransfer
uang mulai jumlah uang yang dimiliki seseorang akan menjadi kurang
bahkan hilang setelah ditransfer pada orang lain. Tetapi mentransfer
diartikan sebagai proses menyebar luaskan, seperti halnya menyebar
luaskan atau memindahkan api, ketika api dipindahkan atau disebar luaskan
maka api itu tidaklah menjadi kecil akan tetapi semakin membesar. Untuk
proses mengajar sebagai proses menyampaikan pengetahuan, akan lebih
tepat kalau diartikan menanamkan ilmu pengetahuan sepertihalnya yang
telah disampaikan oleh smith (1987) bahwa mengajar adalah menanamkan
5
pengetahuan atau keterampilan (teaching is importing knowled ge or skill).
C. Pengertian dan Fungsi Metode Pengajaran
1. Metode Pengajaran
Adalah cara yang digunakan untuk guru atau ustadz dalam
mengadakan hubungan pada siswa saat berlangsungnya pengajaran, oleh
karena itu peranan metode pengajaraan sebagai alat untuk menciptakan
proses pengajaran dan belajar, dengan metode ini diharapkan tumbuh
berbagai kegiatan belajar siswa sehubung dengan mengajar guru, dengan
kata lain terciptalah interaksi eduktif, dalam interaksi ini guru berperan
sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berpearan sebagai
penerima atau yang dibimbing.6
2. Fungsi Metode
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana
siswa atau santri dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan
oleh guru atau ustadz, materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan
yang bersumber dari mata pelajaran yang telah diberikan oleh sekolah.
Pada undang-undang No 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pada BAB II pasal 4 dikatakan bahwa, pendidikan
4 Wira Sanjaya, Setrategi Pembelajaran Berorientasi Setandar Proses Pendidikan (Jakarta:
Pernanda Group, 2007), hal. 93.
5Ibid., hal. 94.
6 Dalam kenyataannya, cara atau metode di dalam mengajar yang digunakan untuk
menyampaikan informasi berbeda dengan cara yang ditempuh untuk memantapkan siswa
dalam menguasai pengetahuan, keterampilan dan sikap (kognitif, psikomotorik dan
afektif). Khusus metode mengajar di dalam kelas, efektifitas suatu metode dipengaruhi
oleh faktor tujuan, faktor siswa, faktor situasi dan faktor guru itu sendiri, dengan
memiliki pengetahuan secara umum mengenai sifat berbagai metode seorang guru akan
lebih mudah menetapkan metode yang paling sesuai dalam situasi dan kondisi pengajaran
yang khusus. Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru
Agensindo Ofset, 2004), hal. 76.
102 Tafaqquh; Vol. 1 No. 1, Mei 2013
Limas Dodi; Metode Pengajaran Nahwu Shorof
nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, adapun pemerintah itu
telah menggambarkan tujuan pendidikan nasional dengan secara bagan
yakni sebagai berikut:7
Adapun fungsi metode pengajaran tidak jauh beda dengan fungsi
pendidikan nasional dengan melalui tujuan instruksional yaitu tujuan
yang dirumuskan dari bahan pelajaran, topik atau sub topik yang akan
diajarkan oleh guru, dengan merumuskan dan mengetahui tujuan
intruksional itu sebelum mengajar, guru dalam membayangkan hasil
tingkah laku (behavioral objectifes) apa yang seharusnya dicapai murid
setelah melakukan kegiatan belajar tertentu, disamping alat evaluasi
belajar, metode-metode mengajar serta kegiatan-kegiatan belajar yang
sesuai atau releven untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
3. Macam-macam Pengajaran
Secara garis besar metode mengajar itu dapat diklasifikasikan
menjadi dua bagian yakni metode mengajar konvensional yaitu metode
mengajar yang lazim dipakai oleh guru atau sering disebut dengan
metode tradisional sedangkan yang kedua yaitu metode mengajar
inkonvensional yaitu suatu teknik mengajar yang baru berkembang dan
belum lazim digunakan secara umum seperti metode mengajar dengan
modul, pengajaran berprogram, pengajaran unit, machine program, masih
merupakan metode yang dikembangkan dan diterapkan di beberapa
sekolah tertentu yang mempunyai peralatan dan media yang terlengkap
serta guru-guru yang ahli menanganinya.8 Adapun metode-metode
mengajar yang konvensional antara lain sebagai berikut:
a. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah teknik penyampaian pesan
pengajaran yang sudah lazim dipakai oleh para guru di sekolah.
7 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi (Bandung; PT. Remaja Rosda
Karya, 2002), hal. 2.
8 Abdul Halim, Metodologi Pembelajaran Agama Islam (Jakarta; Cipta Pres, 2002), hal. 33.
Tafaqquh; Vol. 1 No. 1, Mei 2013 103
no reviews yet
Please Login to review.