Authentication
414x Tipe PDF Ukuran file 0.16 MB Source: publikasiilmiah.ums.ac.id
LAKI-LAKI USIA 16 TAHUN DENGAN DEMAM REMATIK:
LAPORAN KASUS
A Man 16 Years Old With Rheumatic Fever:
Case Report
1 2
Alfina Ulin Ni’mah , Mohamad Ananto C
1 Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta
2 Bagian Ilmu Penyakit Dalam, dr. Sayidiman Magetan General Hospital, East Java
Korespodensi: Alfina Ulin Ni’mah, S.Ked. Alfina08Rifiza@gmail.com
ABSTRAK
Demam rematik adalah penyakit autoimun yang menyerang multi organ akibat
infeksi Streptokokus Beta Hemolitikus grup A pada faring menyebabkan faringitis yang
biasanya menyerang anak dan dewasa muda. Angka kejadian di seluruh dunia
diperkirakan terjadi pada 5-30 juta anak-anak dan dewasa muda, dimana 90.000
meninggal setiap tahunnya Kami melaporkan kasus demam rematik pada laki – laki usia
16 tahun. Dia didiagnosis dengan demam rematik berdasarkan klinis didapatkan demam
(Suhu = 38oC), batuk berdahak, nyeri telan dan nyeri sendi. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan tonsil eodem serta eritem, faring hiperemi, nyeri tekan sendi dan lutut,
murmur diastolik, dan leukositosis. Pada pemeriksaan rontgen thorax didapatkan
kardiomegali, immunoserologi Anti Streptolisin O dengan hasil 400 IU/ml dan pada
pemeriksaan ekokardiografi terdapat dilatasi ventrikel kiri, regurgitasi aorta sedang dan
mitral regurgitasi ringan. Kesimpulan untuk presentasi kasus ini adalah menekankan
pentingnya pembuatan diagnosis dan pengobatan yang optimal pada demam rematik.
Kolaborasi ahli penyakit dalam dan ahli jantung diperlukan untuk mencapai pengobatan
yang optimal.
Kata Kunci : Demam Rematik, Streptokokus hemolitikus grup A
ABSTRACT
Rheumatic fever is an autoimmune disease that attack multi organs caused by
Streptococcus beta haemoliticus group A at pharyng cause pharyngitis usually happen in
children and young child. Rheumatic fever is one of health problem in developing
country. The incidence in the world about 5-30 million in children and young adult, and
90.000 people died every year. We report a case of rheumatic fever, 16 years old man.
He was diagnosed with rheumatic fever with clinical manifestations fever (Temperature
o
= 38 C), productive cough, dysphagia, joint pain. In physical examination, tonsil oedem
and erythem, pharyng erythem, tenderness on joint and knee, diastolic murmur and
leucosytosis. In thorax rontgen there were cardiomegali, Anti Streptolysin O titer
immunoserology 400 IU/ml and in echocadiography dilatates left ventricel, aortic
regurgitation moderate and mitral regurgitation. This case emphasizes the importance of
establishing a diagnosis and the optimal treatment for rheumatic fever. The collaboration
of internist and cardiologist is needed to achieve optimally medical treatment.
Keywords: Rheumatic fever, Streptoccoccus haemolyticus group A
28 | ISSN: 2721-2882
PENDAHULUAN kelainan katup jantung yang terbanyak
Demam rematik adalah penyakit terutama pada anak sehingga
autoimun yang menyerang multi organ mengurangi produktivitas dan kualitas
akibat infeksi streptokokus beta hidup. Angka kejadian yang tinggi di
hemolitikus grup A pada faring negara berkembang berhubungan
menyebabkan faringitis yang biasanya dengan sosial ekonomi yang rendah,
menyerang anak dan dewasa muda. pelayanan kesehatan yang kurang
Demam rematik menyebabkan memadai, infeksi tenggorok yang tidak
terjadinya peradangan yang biasanya diobati atau penanangan yang lambat
terjadi pada jantung, kulit dan jaringan dan lingkungan yang padat. Prevalensi
ikat. Pada daerah endemik, 3% pasien demam rematik di Indonesia berkisar 0,3
yang mengalami faringitis oleh sampai 0,8 per 1.000 orang (Shiba &
streptokokus berkembang menjadi Rukmi, 2017). Diharapkan dengan
demam rematik dalam 2-3 minggu penelitian ini akan diketahui pentingnya
setelah infeksi saluran nafas bagian atas penegakan diagnosis demam rematik di
tersebut (Hasnul et al. 2015). RSUD dr Sayidiman Magetan dan dapat
Demam rematik akut adalah salah bermanfaat dalam peningkatan
satu penyebab utama masalah kesehatan penanganan, pencegahan serta eradikasi
di negara berkembang. Angka kejadian dari demam rematik untuk wilayah
di seluruh dunia diperkirakan terjadi Magetan pada khususnya dan Indonesia
pada 5-30 juta anak-anak dan dewasa pada umumnya.
muda, dimana 90.000 meninggal setiap KASUS
tahunnya dengan mortalitas 1-10%. Pasien seorang laki-laki berusia
Puncak insiden demam rematik akut 16 tahun datang ke instalansi gawat
pada usia kelompok 5-15 tahun. darurat di RSUD dr. Sayidiman Magetan
Penyakit ini merupakan penyebab dengan keluhan demam sejak 5 hari
29 | ISSN: 2721-2882
yang lalu. Demam bersifat naik turun, yaitu 5 dan GCS 456, tekanan darah
meningkat terutama pada malam hari. 120/80 mmHg, nadi 82x/menit, reguler,
Pemberian obat penurun panas hanya pernafasan 25x/menit, dan suhu 38,5oC.
menurunkan sesaat, keluhan disertai Pada pemeriksaan kepala normocephal,
dengan mual. Keluhan lain yaitu pasien konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik
mengeluhkan sesak sejak 1 hari yang (-/-), pupil reflek (+/+), respon cahaya
lalu, tanpa nyeri dada., diperberat (+/+), tonsil eodem dan eritem (+),
dengan olahraga berat dan membaik faring eritem (+). Pemeriksaan leher
dengan istirahat. yaitu pembesaran limfonodi (-), JVP
Terdapat nyeri telan dan batuk 5+2 cmH 0. Pada hasil pemeriksaan
2
berdahak berwarna putih sejak 5 hari dada, hasil jantung didapatkan murmur
yang lalu. Selain itu, juga mengeluhkan diastolik (+), gallop (–). Hasil
nyeri pada lutut kanan dan pada siku pemeriksaan paru – paru yaitu simetris,
kanan. Nyeri dirasakan sejak 5 hari yang ronkhi (-/-), wheezing (+/+). Selain itu,
lalu bersifat hilang timbul. Pasien juga pemeriksaan abdomen didapatkan hasil
mengeluhkan nyeri perut bawah yang supel, bising usus (+) normal, timpani,
bersifat hilang timbul, nyeri saat diawal shifting dullness (-), nyeri tekan
buang air kecil serta warna urin berubah hipogastrik (+). Pemeriksaan
menjadi seperti teh sejak 5 hari yang ekskremitas yaitu nyeri tekan sendi
lalu. lutut dan siku (+/-) oedema (-/-), akral
Pada hasil pemeriksaan fisik hangat (+/+). Pemeriksaan neurologis
terdapat tonsil eodem dan eritem, faring tidak ditemukan kelainan, refleks
hiperemi, didapatkan KU tampak sakit fisiologi (+), refleks patologis (-), tanda
sedang, kesadaran composmentis, rangsang meningeal (-). Status gizi
dengan VAS (Visual Analog Scale) skor berdasarkan WHO Growth Chart
30 | ISSN: 2721-2882
Standard 2006 BB/U, TB/U dan BB/TB didapatkan kardiomegali dengan CTR
berada dalam batas normal. 53%. Dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan darah lengkap ultrasonografi terhadap pasien
didapatkan Hb 12,8 g/dL, leukosit didapatkan hasil sistitis (Gambar 2).
13.790/uL, eritrosit 4.83 juta/L, Pemeriksaan serologi ASTO 400 IU/ml.
hematokrit 37,9%, MCV 78,5fL, MCH Pemeriksaan EKG didapatkan sinus
26.5pg, MCHC 33.8g/dL, trombosit rthym, irama reguler, axis normal.
407.000/uL, prokalsitonin 0.36%.
Ureum darah 13.3, kreatinin serum 0.82,
asam urat 4,8, total kolestrol 103,
trigliserida 45, HbsAg (-), SGOT dan
SGPT mengalami peningkatan yaitu 54
dan 202.
Pemeriksaan urinalisis didapatkan
berat jenis 1.020, pH 5, leukosit (-)
dengan angka kuantitas 0-1, nilai nitrit (-
), bilirubin negatif, epitel 1-3, protein
dengan hasil +1 yaitu 25 mg/dL, glukosa
(-), urobilinogen normal, eritosit (-) Gambar 1. Hasil ekokardiografi pasien
dengan angka kuantitas (0-1).
Pada pemeriksaan serologi
didapatkan hasil tes widal paratyhpi A
(P.A) (-), paratyhpi B (P.B) (-) , typhoid
O (T.O) +1/80, typhoid H (T.H) +1/80.
Hasil pemeriksaan rontgen thorax
31 | ISSN: 2721-2882
no reviews yet
Please Login to review.